Kegiatan budidaya ikan khususnya ikan lokal di Kabupaten Tapin masih minim. Pada awalnya kegiatan budidaya ikan lokal hanya bersifat menahan sementara didalam kurungan sambil menunggu harga ikan tersebut mahal. Kegiatan budidaya ini bersifat sampingan, ikan yang di pelihara di dalam kolam atau karamba di peroleh dari alam atau di beli dari nelayan penangkap ikan dengan ukurang 100 gram/ekor. Ikan tersebut di pelihara seadanya dengan makanan seadanya hingga mencapai ukuran konsumsi.
Menurut Sofyan salah satu pembudidaya ikan lokal yang ada di Desa Pabaungan Hulu Kecamatan Candi Laras Selatan, bahwa budidaya ikan lokal cukup menguntungkan. Hasil ujicoba yang dilakukannya membawa keberhasilan. Dengan bermodalkan tiga buah karamba dia mampu memproduksi 600-700 kg ikan Gabus dan Toman dalam satu periode. Lama pemeliharaan dari ukuran 100 gram/ekor sampai menjadi 300-400 gram/ekor dibutuhkan waktu kurang lebih lima bulan. Keuntungan bersih yang diperoleh dalam satu periode sebesar Rp. 6000.000,-.
Kegiatan budidaya ikan lokal di Kecamatan Candi Laras Selatan sudah berjalan lama, hanya saja perkembangannya berjalan lamban. Salah satu kendala dalam pemeliharaan ikan lokal menurut pembudidaya setempat adalah sulitnya mendapatkan pakan. Pakan yang diberikan berupa pakan segar yang diambil dari alam seperti sepat rawa dan keong mas. Pakan segar ini bersifat musiman sehingga menjadi kendala dalam pemeliharaan ikan lokal.
Para pembudidaya ikan berharap kepada instansi terkait agar dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang mereka hadapi dengan memberikan informasi teknologi budidaya yang tepat kepada mereka, sehingga budidaya perikanan lokal menjadi lebih maju.
Kamis, 01 April 2010
Selasa, 09 Maret 2010
Kamis, 04 Februari 2010
Analisa Usaha Pembenihan Ikan Papuyu
• Biaya Investasi
- Akuarium (60x40x45 cm) 20 buah @ Rp. 100.000,- Rp. 2.000.000,-
- Kolam 100 m2 2 buah @ Rp. 20.000,-/m2 Rp. 4.000.000,-
- Alat suntik 2 buah @ Rp. 3500,- Rp. 7.000,-
- Serok kecil 2 buah @ Rp. 7.500,- Rp. 15.000,-
- Baskom plastik 2 buah @ Rp. 15.000,- Rp. 30.000,-
- Lain-lain Rp. 50.000,-
Sub Total Rp. 6.102.000,-
• Biaya Operasional per tahun (6 siklus)
A. Biaya Tetap
- Bunga Investasi (35 %) Rp. 2.135.700,-
- Penyusutan per tahun (10 %) Rp. 610.000,-
Sub Total Rp. 2.745.900,-
B. Biaya Variabel
- Induk Betina 3 Kg Rp. 90.000,-
- Induk Jantan 3 kg Rp. 45.000,-
- Ovaprim 1 Botol Rp. 250.000,-
- Artemia 3 Kaleng Rp. 900.000,-
- Pupuk kandang 360 kg @ Rp. 500,- Rp. 180.000,-
- Kapur 180 Kg @ Rp. 500,- Rp. 90.000,-
- Gaji/Upah Rp. 1.800.000,-
- Lain-lain Rp. 300.000,-
Sub Total Rp. 3.655.000,-
Total Biaya Operasional a + b Rp. 6.400.900,-
1. Pendapatan
- Penebaran Larva 40.000 ekor (50 ekor/m2)
- SR ukuran 1 – 3 cm sebesar 60 %
- Harga jual Rp. 150,-/ekor
- Pendapatan 6 siklus /tahun
= 0,6 x 40.000 x Rp. 150,- x 6
= 24.000 x Rp. 150,- x 6 Rp. 21.600.000,-
2. Keuntungan bersih
= Rp 21.600.000,- ─ Rp. 6.400.900,- Rp. 15.199.100,-
Penghasilan rata-rata perbulan Rp. 1.266.592,-
- Akuarium (60x40x45 cm) 20 buah @ Rp. 100.000,- Rp. 2.000.000,-
- Kolam 100 m2 2 buah @ Rp. 20.000,-/m2 Rp. 4.000.000,-
- Alat suntik 2 buah @ Rp. 3500,- Rp. 7.000,-
- Serok kecil 2 buah @ Rp. 7.500,- Rp. 15.000,-
- Baskom plastik 2 buah @ Rp. 15.000,- Rp. 30.000,-
- Lain-lain Rp. 50.000,-
Sub Total Rp. 6.102.000,-
• Biaya Operasional per tahun (6 siklus)
A. Biaya Tetap
- Bunga Investasi (35 %) Rp. 2.135.700,-
- Penyusutan per tahun (10 %) Rp. 610.000,-
Sub Total Rp. 2.745.900,-
B. Biaya Variabel
- Induk Betina 3 Kg Rp. 90.000,-
- Induk Jantan 3 kg Rp. 45.000,-
- Ovaprim 1 Botol Rp. 250.000,-
- Artemia 3 Kaleng Rp. 900.000,-
- Pupuk kandang 360 kg @ Rp. 500,- Rp. 180.000,-
- Kapur 180 Kg @ Rp. 500,- Rp. 90.000,-
- Gaji/Upah Rp. 1.800.000,-
- Lain-lain Rp. 300.000,-
Sub Total Rp. 3.655.000,-
Total Biaya Operasional a + b Rp. 6.400.900,-
1. Pendapatan
- Penebaran Larva 40.000 ekor (50 ekor/m2)
- SR ukuran 1 – 3 cm sebesar 60 %
- Harga jual Rp. 150,-/ekor
- Pendapatan 6 siklus /tahun
= 0,6 x 40.000 x Rp. 150,- x 6
= 24.000 x Rp. 150,- x 6 Rp. 21.600.000,-
2. Keuntungan bersih
= Rp 21.600.000,- ─ Rp. 6.400.900,- Rp. 15.199.100,-
Penghasilan rata-rata perbulan Rp. 1.266.592,-
Tips Mudah Pendederan Ikan Betok (Papuyu) :
1. Sebelum benih ditebar, dilakukan persiapan kolam meliputi pengeringan, pengapuran, pemupukan dan pengisian air kolam selama 5 hari
2. Kesuburan kolam sangat menentukan keberhasilan pemeliharaan benih papuyu karena ketergantungan benih terhadap ketersediaan pakan alami di kolam
3. Setelah kolam terlihat subur, terlihat pakan alami sudah tumbuh maka benih papuyu dapat ditebar ke kolam
4. Padat tebar benih 500 – 1.000 ekor/m2
5. Penebaran benih dilakukan pada pagi hari untuk menghindari stress karena perbedaan suhu air dengan cara melepas benih dari baskom ke dalam kolam secara perlahan
6. Pendederan di kolam selama 1 bulan
7. Setelah larva berumur 3 hari, larva ikan papuyu ditampung terlebih dahulu di dalam hapa yang dipasang dalam kolam selama 1 minggu.
8. Selama di dalam hapa 2 x 1 m, larva ikan diberi pakan artemia 1 kali/hari sampai umur 1 minggu
9. Setelah terlihat kuat dan ukurannya lebih besar maka larva dapat ditebar/dilepas ke dalam kolam pendederan
10. Selama di kolam larva diberi makan pelet halus sebanyak 10 % dari berat biomassa tubuhnya per hari dengan frekuensi pemberian 2 kali sehari
11. Setelah 1 minggu dilakukan penambahan air dengan membuka pintu pemasukan air kolam
12. Panen benih dilakukan setelah 1 bulan pemeliharaan di kolam dengan cara mengeringkan kolam
2. Kesuburan kolam sangat menentukan keberhasilan pemeliharaan benih papuyu karena ketergantungan benih terhadap ketersediaan pakan alami di kolam
3. Setelah kolam terlihat subur, terlihat pakan alami sudah tumbuh maka benih papuyu dapat ditebar ke kolam
4. Padat tebar benih 500 – 1.000 ekor/m2
5. Penebaran benih dilakukan pada pagi hari untuk menghindari stress karena perbedaan suhu air dengan cara melepas benih dari baskom ke dalam kolam secara perlahan
6. Pendederan di kolam selama 1 bulan
7. Setelah larva berumur 3 hari, larva ikan papuyu ditampung terlebih dahulu di dalam hapa yang dipasang dalam kolam selama 1 minggu.
8. Selama di dalam hapa 2 x 1 m, larva ikan diberi pakan artemia 1 kali/hari sampai umur 1 minggu
9. Setelah terlihat kuat dan ukurannya lebih besar maka larva dapat ditebar/dilepas ke dalam kolam pendederan
10. Selama di kolam larva diberi makan pelet halus sebanyak 10 % dari berat biomassa tubuhnya per hari dengan frekuensi pemberian 2 kali sehari
11. Setelah 1 minggu dilakukan penambahan air dengan membuka pintu pemasukan air kolam
12. Panen benih dilakukan setelah 1 bulan pemeliharaan di kolam dengan cara mengeringkan kolam
Senin, 11 Januari 2010
PEMIJAHAN PAPUYU
Pemeliharaan induk :
1. Pemeliharaan induk di bak beton ukuran 1 x 1 m
2. Induk diberi pakan pelet sebanyak 5 % dari berat biomassa
tubuhnya per hari dengan frekuensi 1 kali sehari
3. Pergantian air total dan pengamatan kematangan gonad
setiap bulan sekali
Seleksi Induk :
1. Seleksi induk dilakukan dengan menangkap induk satu persatu dan dilihat ciri-ciri kematangannya
2. Induk jantan siap pijah ditandai dengan keluarnya cairan putih susu apabila diurut pelan alat kelaminnya
3. Induk betina siap pijah ditandai perut terlihat membesar ke arah anus dan lembek serta alat kelaminnya berwarna kemerahan
Pemijahan :
1. Pemijahan dilakukan secara semi buatan dengan penyuntikan hormon ovaprim dengan dosis 0,5 ml/kg berat induk.
2. Penyuntikan induk jantan dan betina dilakukan sebanyak satu kali secara intramuscular atau di punggung. Penyuntikan dilakukan pada sore hari jam 17.00.
3. Induk jantan dan betina yang sudah disuntik kemudian dicampur dalam satu akuarium dengan perbandingan jumlah jantan : betina adalah 4 : 1.
4. Pemijahan/ovulasi akan terjadi pada malam hari (jam 22.00), dan pada pagi harinya setelah selesai ovulasi induk ikan papuyu dipisahkan dari telur dan dikembalikan ke kolam induk
Penetasan Telur :
1. Telur yang terbuahi/hidup berwarna bening ada bintik hitam, sedangkan telur yang tidak terbuahi/mati berwarna putih susu
2. Telur yang dikeluarkan induk Papuyu diinkubasi di akuarium selama 20 – 24 jam hingga menetas
3. Selama masa inkubasi air akuarium diberi aerasi dan telur yang mati disipon/dibersihkan
Semoga tulisan singkat ini dapat memberikan tambahan informasi teknik pembenihan ikan betok/papuyu(Anabas testudeneus) dan tahapan selanjutnya bisa dilihat pada TAHAPAN PENDEDERAN BENIH PAPUYU
BIOLOGI IKAN PAPUYU
A. Klasifikasi
Ikan Papuyu sebenarnya sudah lama dikenal masyarakat Indonesia dibeberapa daerah. Dalam bahasa-bahasa daerah ikan ini juga dinamakan ikan Betik (Jawa dan Sunda), Papuyu (Kalimantan Selatan), Puyu (Malaya dan Kalimantan Timur), Puyu-puyu (Padang), Puyo-puyo (Bintan), geteh-geteh (Manado), dan kusang (Danau Matanua). Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai climbing gouramy atau climbing perch, merujuk pada kemampuannya memanjat ke daratan. Nama ilmiahnya adalah Anabas testudineus (Bloch, 1792).
Menurut Saanin (1984), Ikan Papuyu diklasifikasikan sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Labyrinthici
Famili : Anabantidae
Genus : Anabas
Species : Anabas testudineus Bloch
B. Morfologi
Menurut Djuhanda (1981), tanda-tanda utama ikan Papuyu adalah bentuk lonjong lebih ke belakang pipih. Kepala besar dan mulut tidak dapat disembulkan. Semua badan kepalanya bersisik kasar dan besar-besar. Jari-jari keras dari sirip perut dapat digerakan untuk berjalan pada permukaan lumpur yang kering. Badan berwarna coklat agak hitam kehiaju-hijauan .
1. Ikan yang umumnya berukuran kecil, panjang hingga sekitar 25 cm, namun kebanyakan lebih kecil. Berkepala besar dan bersisik keras kaku.
2. Sisi atas tubuh (dorsal) gelap kehitaman agak kecoklatan atau kehijauan. Sisi samping (lateral) kekuningan, terutama di sebelah bawah, dengan garis-garis gelap melintang yang samar dan tak beraturan. Sebuah bintik hitam (terkadang tak jelas kelihatan) terdapat di ujung belakang tutup insang.
3. Sisi belakang tutup insang bergerigi tajam seperti duri.
C. Daerah Penyebaran
Ikan ini menyebar luas, mulai dari India, Cina hingga Asia Tenggara dan Kepulauan Nusantara di sebelah barat Garis Wallace Daerah penyebaran ikan Papuyu di Indonesia meliputi Sumatera, Nias, Bintan, Sulawesi, Bangka, Sumbawa, Pati, Ambon, Jawa, Bacau, Halmahera, Kalimantan, dan Madura.
D. Kebiasaan/Behaviour
Dalam keadaan normal, sebagaimana ikan umumnya, betok bernafas dalam air dengan insang. Akan tetapi seperti ikan gabus dan lele, betok juga memiliki kemampuan untuk mengambil oksigen langsung dari udara. Ikan ini memiliki organ labirin (labyrinth organ) di kepalanya, yang memungkinkan hal itu. Alat ini sangat berguna manakala ikan mengalami kekeringan dan harus berpindah ke tempat lain yang masih berair. Betok mampu merayap naik dan berjalan di daratan dengan menggunakan tutup insang yang dapat dimegarkan, dan berlaku sebagai semacam ‘kaki depan’. Namun tentu saja ikan ini tidak dapat terlalu lama bertahan di daratan, dan harus mendapatkan air dalam beberapa jam atau ia akan mati.
E. Habitat
Ikan Papuyu ditemukan di rawa-rawa, sawah, sungai kecil dan parit-parit, juga pada kolam-kolam yang mendapatkan air banjir atau berhubungan dengan saluran air terbuka. Ikan Papuyu dapat tumbuh normal pada perairan dengan kisaran pH antara 4 – 8. Ikan Papuyu tahan terhadap kekeringan dan terkadang kuat hidup sampai satu minggu tanpa air atau tinggal dalam lumpur sedikit berair selama 1 – 2 bulan.
F. Makanan
Ikan Papuyu adalah golongan ikan pemakan segala (omnivora), oleh karena itu mudah diberikan makanan tambahan atau buatan.Menurut Mudjiman (1985), jumlah makanan yang dikonsumsi oleh ikan secara umum berkisar antara 3 – 6 % dari total berat ikan. Namun jumlah makanan itu dapat berubah-ubah tergantung pada suhu lingkungannya. Ikan ini memangsa aneka serangga dan hewan-hewan air yang berukuran kecil.
G. Pertumbuhan
Arifin (1991), menyatakan bahwa pertumbuhan dapat dikatakan sebagai pertambahan ukuran panjang atau berat didalam waktu tertentu. Pertambahan ukuran ini karena adanya proses hayati yang terus menerus terjadi didalam tubuh organisme. Kecepatan pertumbuhan sangat tergantung kepada jumlah makanan yang diberikan, ruang, suhu, kedalaman air, kandungan oksigen dalam air, dan parameter kualitas air lainnya. Makanan yang didapat oleh ikan terutama di manfaatkan untuk pergerakan, memulihkan organ tubuh yang rusak, setelah itu kelebihan makanan yang didapatkan digunakan untuk pertumbuhan (Asmawi, 1986). Pertumbuhan ikan Papuyu di alam dapat mencapai ukuran >200 gram per ekor dalam 1 tahun, sedangkan pertumbuhan dalam lingkungan budidaya (kolam, fishpen/jaring tancap) mencapai kisaran 70 - 100 gram per ekor selama 1 tahun
H. Reproduksi
Ikan Papuyu berkembangbiak dengan cara induk betina mengeluarkan telur yang dibuahi induk jantan dengan mengeluarkan sperma. Pembuahan terjadi diluar dengan cara tubuh induk jantan menjepit tubuh induk betina sambil mengeluarkan telur dan sperma
I. Telur
Telur ikan Papuyu berbentuk bulat berwarna bening kekuningan dengan sifat mengapung di air. 1 ekor induk papuyu dapat memproduksi telur sebanyak 15.000 – 30.000 tergantung berat dari ikan tersebut
J. Larva
Larva ikan Papuyu berukuran panjang < 1 mm berwarna bening dengan bintik mata hitam. Pada umur 1 hari larva akan diam mengapung di permukaan air atau menempel pada substrat, setelah umur 1 hari larva mulai berenang aktif
By Saifuddin
Senin, 02 November 2009
Berdayakan Kelompok Pembudidaya Ikan Kecil
Berdayakan Kelompok Pembudidaya Ikan Kecil
Kelompok pembudidaya ikan (POKDAKAN) merupakan kupulan dari pembudidaya ikan yang memiliki misi dan tujuan yang sama dalam mengembangkan usaha perikanan budidaya di pedesaan. Pembudidaya ikan digolongkan menjadi tiga golongan yaitu, pembudidaya ikan kelas pemula, pembudidya ikan kelas madya, dan pembudiday ikan kelas lanjut. Lembaga kelompok pembudidaya ikan masih dinilai lembah baik dalam hal manajemen maupun permodalan. Dalam hal ini tentunya kelompok yang anggotanya terdiri dari kelas pemula. Kelompok pemula biasanya anggotanya baru belajar mengenai usaha budidaya ikan dan bisa dikatakan belum berpegalaman, kelompok ini harus dibina sebaik mungkin dan terus diarahkan. Kelompok madya merupakan kelompok pembudidaya ikan yang sudah terbina, namun masih tergantung pada dinas atau instansi terkait. Sedangkan kelompok lanjut adalah kelompok yang sangat berpengalaman dan mandiri baik dalam hal manajemen maupun permodalan.
Semua kelompok pembudidaya ikan tingkat lanjut juga berawal dan tumbuh dari kelompok pemula. . Dengan pembinaan yang berkelanjutanlah akhirnya mereka tumbuh secara bertahap menjadi kelompok madya dan terus menjadi kelompok tingkat lanjut.
Kelompok pembudidaya ikan kecil memiliki keterbatasan dalam hal keterapilan, manajemen usaha, dan lemah dalam hal permodalan. Untuk memperkuat para pembudidaya ini tentunya harus dilakukan perencanaan dan pola pebinaan yang terarah. Memang kita ketahui bersama dari tahun 2003 hingga 2008 pemerintah telah mengucurkan dana penguatan modal bagi kelompok pembudidaya ikan kecil. Bahkan pada tahun 2008 tadi pemerintah juga telah memberikan bantuan social dengan program Bantuan Social Pengembangan Usaha Kecil Perikanan Budidaya (BS-PUKPB) hampir seluruh kabupaten kota menerima bantuan hibah ini. Namun bantuan ini tidak sepenuhnya dimanfaatkan oleh pembudidaya ikan untuk meningkatkan kegiatan usahanya.
Untukmemberdayakan kelompok pembudidaya ikan yang ada perlu kesabaran dan ketulusan. Karena merubah pola pikir dan tindakan mereka perlu pendekatan secara personal maupun melelui pendidikan dan pelatihan. Dengan adanya pendekatan yang dilakukan setidaknya akan mempercepat proses alih teknologi budidaya tepat guna. Setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya penyerapan alih teknologi yang seharusnya mereka terapkan; yang pertama faktor dari anggota kelompok itu sendiri, yaitu para pembudidaya yang keras kepala dan terpaku pada pengalaman masa lalu tanpa melihat adanya perubahan teknologi budidaya perikanan yang ada. Mereka bertindak sesuai pengalaman tanpa mau mencoba teknologi yang dianjurkan, walaupun berkali-kali telah disampaikan kepada mereka. Yang kedua faktor dari informasi, informasi teknologi yang ada belum sampai kepada mereka atau terlalu lambatnya informasi tersebut sampai kepada mereka. Keterlambatan sampainya informasi ini dikarenakan oleh sistem informasi tersebut.
Untuk mengatasi permasahan tersebut bisa dilakukan dengan cara meningkatkan peran penyuluhan perikanan yang ada di setiap Kabupaten, Kecamatan, dan Desa-desa. Setidaknya setiap desa ada penyeluhnya, sehingga di desa tersebut ada pembina tetap kepada kelompok yang ada. Dengan adanya penyuluh perikanan diharapkan penyampaian alih teknologi budidaya dapat berjalan dengan lancar.
Merubah perilaku pembudidaya bisa dimulai melalui percontohan budidaya yang baik dan benar. Dengan dilakukannya budidaya yang benar tentunya akan memberikan bimbingan kepada para pembudidaya bagaimana cara budidaya yang menguntungkan melalui manajemen usaha yang tepat sehingga hasil yang diinginkan memuaskan. Jika percontohan yang dilaksanakan berhasil tentunya akan memberikan motifasi kepada mereka untuk mencoba teknologi budidaya ikan tepat guna.
Setelah pemberdayaan SDM sudah berjalan dengan baik, barulah dilakukan pemberdayaan melalui permodalan. Jika SDM pembudidaya ikan belum terbina akan mengakibatkan kegagalan program. Seberapapun program dan modal yang diberikan jika SDM lemah, maka hasil dari program tidaklah memuaskan. Untuk itu sebagaimana dijelaskan diatas bahwa program utama yang harus dijalankan adalah program peningkatan sumberdaya manusianya. Selanjutnya baru ditata program-program lain seperti program peningkatan produksi perikanan dan lainnya. Titik berat dari pembinaan adalah mengubah pola pikir dan tingkah laku pembudidaya ikan agar mempunyai mental wira usaha. Bukan menjadikannya mental peminta-minta. Salah satu program yang tidak mendidik kepada para pembudidaya adalah adanya bantuan Cuma-Cuma. Bantuan Cuma-Cuma bisa diberikan sesekali jika hanya untuk merangsang pertumbuhan iklim usaha, bukan diberikan secara terus menerus. Mari jadikan kelompok pembudidaya ikan menjadi kelompok yang kuat dan mandiri untuk memenuhi dan menolong diri mereka sendiri.
Kelompok pembudidaya ikan (POKDAKAN) merupakan kupulan dari pembudidaya ikan yang memiliki misi dan tujuan yang sama dalam mengembangkan usaha perikanan budidaya di pedesaan. Pembudidaya ikan digolongkan menjadi tiga golongan yaitu, pembudidaya ikan kelas pemula, pembudidya ikan kelas madya, dan pembudiday ikan kelas lanjut. Lembaga kelompok pembudidaya ikan masih dinilai lembah baik dalam hal manajemen maupun permodalan. Dalam hal ini tentunya kelompok yang anggotanya terdiri dari kelas pemula. Kelompok pemula biasanya anggotanya baru belajar mengenai usaha budidaya ikan dan bisa dikatakan belum berpegalaman, kelompok ini harus dibina sebaik mungkin dan terus diarahkan. Kelompok madya merupakan kelompok pembudidaya ikan yang sudah terbina, namun masih tergantung pada dinas atau instansi terkait. Sedangkan kelompok lanjut adalah kelompok yang sangat berpengalaman dan mandiri baik dalam hal manajemen maupun permodalan.
Semua kelompok pembudidaya ikan tingkat lanjut juga berawal dan tumbuh dari kelompok pemula. . Dengan pembinaan yang berkelanjutanlah akhirnya mereka tumbuh secara bertahap menjadi kelompok madya dan terus menjadi kelompok tingkat lanjut.
Kelompok pembudidaya ikan kecil memiliki keterbatasan dalam hal keterapilan, manajemen usaha, dan lemah dalam hal permodalan. Untuk memperkuat para pembudidaya ini tentunya harus dilakukan perencanaan dan pola pebinaan yang terarah. Memang kita ketahui bersama dari tahun 2003 hingga 2008 pemerintah telah mengucurkan dana penguatan modal bagi kelompok pembudidaya ikan kecil. Bahkan pada tahun 2008 tadi pemerintah juga telah memberikan bantuan social dengan program Bantuan Social Pengembangan Usaha Kecil Perikanan Budidaya (BS-PUKPB) hampir seluruh kabupaten kota menerima bantuan hibah ini. Namun bantuan ini tidak sepenuhnya dimanfaatkan oleh pembudidaya ikan untuk meningkatkan kegiatan usahanya.
Untukmemberdayakan kelompok pembudidaya ikan yang ada perlu kesabaran dan ketulusan. Karena merubah pola pikir dan tindakan mereka perlu pendekatan secara personal maupun melelui pendidikan dan pelatihan. Dengan adanya pendekatan yang dilakukan setidaknya akan mempercepat proses alih teknologi budidaya tepat guna. Setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya penyerapan alih teknologi yang seharusnya mereka terapkan; yang pertama faktor dari anggota kelompok itu sendiri, yaitu para pembudidaya yang keras kepala dan terpaku pada pengalaman masa lalu tanpa melihat adanya perubahan teknologi budidaya perikanan yang ada. Mereka bertindak sesuai pengalaman tanpa mau mencoba teknologi yang dianjurkan, walaupun berkali-kali telah disampaikan kepada mereka. Yang kedua faktor dari informasi, informasi teknologi yang ada belum sampai kepada mereka atau terlalu lambatnya informasi tersebut sampai kepada mereka. Keterlambatan sampainya informasi ini dikarenakan oleh sistem informasi tersebut.
Untuk mengatasi permasahan tersebut bisa dilakukan dengan cara meningkatkan peran penyuluhan perikanan yang ada di setiap Kabupaten, Kecamatan, dan Desa-desa. Setidaknya setiap desa ada penyeluhnya, sehingga di desa tersebut ada pembina tetap kepada kelompok yang ada. Dengan adanya penyuluh perikanan diharapkan penyampaian alih teknologi budidaya dapat berjalan dengan lancar.
Merubah perilaku pembudidaya bisa dimulai melalui percontohan budidaya yang baik dan benar. Dengan dilakukannya budidaya yang benar tentunya akan memberikan bimbingan kepada para pembudidaya bagaimana cara budidaya yang menguntungkan melalui manajemen usaha yang tepat sehingga hasil yang diinginkan memuaskan. Jika percontohan yang dilaksanakan berhasil tentunya akan memberikan motifasi kepada mereka untuk mencoba teknologi budidaya ikan tepat guna.
Setelah pemberdayaan SDM sudah berjalan dengan baik, barulah dilakukan pemberdayaan melalui permodalan. Jika SDM pembudidaya ikan belum terbina akan mengakibatkan kegagalan program. Seberapapun program dan modal yang diberikan jika SDM lemah, maka hasil dari program tidaklah memuaskan. Untuk itu sebagaimana dijelaskan diatas bahwa program utama yang harus dijalankan adalah program peningkatan sumberdaya manusianya. Selanjutnya baru ditata program-program lain seperti program peningkatan produksi perikanan dan lainnya. Titik berat dari pembinaan adalah mengubah pola pikir dan tingkah laku pembudidaya ikan agar mempunyai mental wira usaha. Bukan menjadikannya mental peminta-minta. Salah satu program yang tidak mendidik kepada para pembudidaya adalah adanya bantuan Cuma-Cuma. Bantuan Cuma-Cuma bisa diberikan sesekali jika hanya untuk merangsang pertumbuhan iklim usaha, bukan diberikan secara terus menerus. Mari jadikan kelompok pembudidaya ikan menjadi kelompok yang kuat dan mandiri untuk memenuhi dan menolong diri mereka sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)